Daftar Blog

Daftar Blog

Selasa, 01 April 2014

The 13 Satans ( Chapter 1 : Satan )



Ok, untuk acara pembukaan blog absurd ini, aku memutuskan untuk me-share crita yg 1 tahun lalu kubuat ini. ya, cuman chapter1 aja, chapter 2nya dalam proses pembuatan #dziing

minat baca? silahkan dibaca XD #maunya

tpi sayang crita ini mengandung unsur BL-nya, walau kerasa gak kerasanya tergantung dari si pembaca #dziiing

jdi yg g suka BL (boys love), lebih baik g usah baca daripada trauma. yg mau baca kuucapkan terima kasih sebesar2nya!

dan, mungkin sgitu aja bacotannya. klo gitu saya pamit undur diri dan mengucapkan happy reading bagi yg sanggup baca.

.

.

.
 
The 13 Satans 

***

Satan itu punya 13 anak. Anak-anaknya itu dikirimkan kedunia manusia dengan dibekali oleh kekuatan yang berbeda-beda yang tersegel dalam bola berwarna yang berbeda warna pula. Bola berwarna itu menyegel kekuatan mereka yang bisa digunakan sewaktu-waktu. Karena kekuatan mereka tersegel, maka fisik mereka menyerupai manusia biasa, dan bisa berubah menjadi bentuk Satan jika mereka menggunakan kekuatan mereka. 

Misi mereka adalah menghancurkan umat manusia dengan tujuan yang belum jelas. Jika kau melihat seseorang memiliki bola berwarna dengan tanda Segitiga Satan, maka dia adalah anak satan yang menyamar— 

"Hentikan omong kosongmu, Ryusei," 

Kuoi, pemuda 15 tahun bersurai hitam kelam itu kembali mensesah ketika untuk kesekian kalinya mendengarkan cerita temannya itu— Ryusei, yang menurutnya omong kosong. 

Ryusei menciutkan bibirnya, "Kau ini, sama sekali tidak pernah mendengarkanku,". 

"Tentu saja,"tatapannya kembali beralih kehadapan buku didepannya, mengabaikan pemuda disampingnya yang memiliki rambut biru laut itu. "Lagipula yang namanya satan itu tidak nyata,". 

"Begitukah?" 

Koui menghela nafasnya, "... Tentu. Kalau memang ada, bisakah kau membuktikannya?" 

"......" 

Ryusei hanya bisa menatap temannya itu dalam diam. 

Entah apa sebabnya, 

Kata-kata yang hendak dikeluarkannya terhenti ditengah jalan. Lidahnya mendadak kelu. 

Satu helaan nafasnya tercipta. 

Dengan diam, tatapannya dialihkannya pada papan tulis besar didepannya, selagi menunggu sang guru pelajaran terakhirnya, datang. 

*** 

Chapter 1 : Satan 

Toriko Gakuen. Sebuah SMA elit yang berada ditengah kota. Tidak sembarangan anak bisa masuk kesana, karena diperlukan biaya dan kepintaran agar diterima. Ryusaki Koui, salah satu anak yang dapat dengan mudah memasuki sekolah elit tersebut. Ibu dan Ayahnya bekerja sebagai direktur perusahaan besar, sehingga menghasilkan berjuta-juta dalam seminggu itu hal yang mudah, hingga mudah pula bagi mereka memasukkan anak mereka ke SMA elit. Selain itu, Koui juga anaknya memang betul-betul pintar.
Karena jarak antar rumah dan sekolah itu sangat jauh, maka Koui dibelikan rumah pribadi oleh orang tuanya didekat Toriko Gakuen. Dengan rumah seluas 10 x 15 m dan bertingkat 2, rumah itu sepenuhnya milik Koui pribadi. 

"Huwa—... Bahan makanannya habis,"gerutu Koui saat melihat isi kulkas yang sudah habis tak bersisa.
"— Terpaksa beli, deh..."dia menghela nafasnya lagi. 

Walaupun sudah dibelikan rumah sendiri, bukan berarti dia disewakan pembantu juga. 

Segala urusan rumah dia urus sendiri, dari menyapu, mengepel, cuci piring, cuci baju, sampai memasak. Kalau tentang masak, sih, kadang-kadang kalau tak sempat dia bisa beli paket makanan. 

Tapi kali ini berbeda, sekarang sehabis pulang sekolah, tepat jam 2 siang, dia punya banyak waktu untuk masak sendiri. 

Terlebih lagi, selain buat makanan untuk diri sendiri, dia juga perlu menyiapkan makanan untuk seseorang yang numpang tinggal dirumahnya— 

— Ryusei. 

#*# 

"Oi, bangun! Kenapa kau malah molor sehabis pulang sekolah, hah?!"Koui, mengguncang-guncang tubuh dengan tinggi 172 cm didepannya itu. 

"... Biarkan aku tidur— 10 menit lagi saja—" 

"Ck!"Koui mendecih. Orang dihadapannya itu memang menjengkelkan. 

Tapi, salahnya pula membiarkan seseorang tinggal bersamanya. 

Yamasaki Ryusei, seseorang dengan status numpang dirumah Koui. 

Entah asal mulanya darimana, semenjak Koui pindah kerumah ini— 3 bulan lalu— Ryusei tiba-tiba datang kerumahnya dengan membawa koper berisi baju dan uang, lalu meminta untuk tinggal bersamanya.
Koui tentu langsung setuju karena selain bisa membantunya untuk membereskan rumahnya, bisa juga sebagai teman bermain. 

Saat ditanya alasan kenapa Ryusei mau tinggal bersamanya, Ryusei hanya menjawab kalau dia diusir dari rumahnya. Alasan yang cukup logis. 

"Ryusei— ini sudah 10 menit..." 

"Sebentar lagi—" 

"— Ryusei!" 

"......." 

"......?" 

Koui menghela nafasnya, temannya itu tanpa sepengetahuannya langsung terlelap lagi. 

"Ya ampun,". 

Koui memijit keningnya frustasi. Kalau dia sudah habis kesabaran, dia bisa saja langsung menendang Ryusei pergi dari rumah ini. Tapi niat itu diurungkannya. Pasalnya, dia masih punya hati nurani. Apa jadinya kalau Ryusei diusir dari rumahnya dan jadi gelandangan? 

Untuk kesekian kalinya Koui menghela nafas, dan beranjak dari kamar Ryusei untuk membeli bahan makanan. 

#*# 

"Terima kasih sudah berbelanja!" 

Koui berjalan pelan menjauh dari kasir setelah menerima uang kembalian dan nota belanjaan. 

Dengan 2 kantung plastik besar berisi belanjaannya, dia meletakkannya pada keranjang sepedanya. Setelah itu menaikinya dan mengayuhkannya untuk pulang kerumah. 

Kalau misal Ryusei mau mengantarnya dengan motor, pasti akan lebih mudah. Walaupun sudah 15 tahun, Koui belum mau mengendarai motor. Trauma masa lalu, dimana dia pernah merasakan operasi hanya gara-gara belajar naik motor. 

Sambil mengayuh sepedanya dijalanan yang lumayan sepi, dia menatap bukit kecil tepat disebelah jalan itu sekilas. 

Bukit hijau yang dihias dengan pepohonan yang rimbun. 

"Indahnya..."gumamnya sambil tersenyum sekilas memandang maha karya Tuhan itu. 

Eh? 

Koui menghentikan sepedanya. Ada sesuatu yang janggal. 

Dia kembali mengalihkan pandangannya kearah bukit itu— 

— api? 

Koui membalikkan sepedanya, menuju jalan setapak bukit untuk menaikkinya. Sambil menyeret sepedanya, dia mendaki bukit kecil itu. 

Sampai dipuncak, dia melihat seseorang pria dengan celana hitam panjang dan baju panjang merah selengan yang hanya dikancingi oleh satu kancing teratas nomor 2. 

Dipunggungnya ada sebuah sarung pedang dilengkapi sebuah pedang juga. Dilehernya tergantung sebuah kalung rantai. Dia duduk menyender pada pohon dibelakangnya dengan satu kakinya terjulur dan satunya ditekukkan. Tangannya terangkat, menciptakan sesuatu yang tidak bisa dipandang logika. 

Api— dari tangannya dia menciptakan api— 

"— Siapa?" 

Koui tercekat. Sangking terpesonanya, sampai tidak sadar orang dihadapannya tengah memanggilnya.
"Eh—... Eng... Maaf... Aku mengganggumu,"Koui menggaruk tengkuknya, canggung. 

"Hmph,"pria itu tersenyum simpul, surai merahnya berterbangan dibawa angin. Dia berdiri, mendekati Koui yang tengah terpesona. 

Tap. 

Pria itu berhenti tepat didepan Koui. Wajahnya yang tampan dan tubuh atletis bisa dilihat jelas oleh Koui. Disamping itu, telinga pria itu berujung runcing, entah apa sebabnya, membuat Koui penasaran. 

"Kau... Siapa?"dengan takut, Koui angkat bicara. 

"......."pria itu terdiam, menundukkan kepalanya, "Kalau kamu?"lalu mengangkat kepalanya lagi. 

Koui menaikkan sebelah alisnya. Pria itu malah balik menanya sebelum menjawab pertanyaannya. 

"Ryusaki... Koui,". 

"Kalau begitu... Koui-kun,"pria itu kembali tersenyum, "Boleh kupanggil begitu?". 

"Eh... Umm— boleh saja..."jawab Koui. "Kalau begitu namamu?". 

Pria itu tersenyum kecut, tatapan matanya sayu. 

"Aku tidak punya nama," 

"Hah—?" 

Pria itu membalikkan badan, memunggugi Koui yang tengah penasaran, "Yang kutahu... Aku ini... Red,".
Koui terdiam sejenak. Maksudnya namanya itu Red [merah]? Masuk akal juga, sih, pasalnya dari ujung rambut sampai kaki pria dihadapannya ini identik dengan warna merah. 

Tapi, mana ada orang yang punya nama 'Red'. Konyol. 

"Red—"masih dengan memunggungi Koui, pria itu— yang katanya bernama Red, melirik Koui dibelakangnya sekilas, "— Red Satan,". 

Red... Satan... 
 
Satan... 

Apa? 

#*# 

"Koui, kau kenapa?" 

Koui berbalik, menghentikan aktivitasnya mencuci piring. 

"— Eh?" 

Dimeja sana, Ryusei, tengah mengaduk-aduk mie yang jadi makan siangnya. Sambil memperhatikan Koui, dia menyedok mienya itu dengan malas. 

"Masakanmu tidak enak hari ini. Ada apa?" 

Koui menaikkan sebelah alisnya, "Benarkah?"lalu berjalan kemeja makan tempat Ryusei duduk. 

Dia meraih tangan Ryusei yang menggemgam sendok, lalu memasukkan sendok berisi mie buatannya itu kemulutnya. 

Hap. 

Koui mengelap mulutnya dengan ibu jarinya sekilas. 

Rasanya ada yang kurang pas. 

Kebanyakan garam. 

Asin. 

"— benar,"Koui menggaruk rambut belakangnya, heran. 

Biasanya masakannya selalu pas rasanya— bisa dikatakan selalu enak. Sebelum pindah kekota, dia selalu belajar dirumah dengan chef elit. Namun kenapa, kali ini— 

Ryusei mendelik kearah Koui, "Ada apa? Ada sesuatu yang mengganggumu sampai-sampai membuat masakanmu jadi tak enak?" 

"— mana ada hubungannya enak enggaknya masakanku dengan masalahku..." 

"Tapi dari rautmu, sepertinya kau ada masalah—"Ryusei semakin menekan, meminta penjelasan.
Koui memutar otaknya, mengingat apa-apa yang dipikirkkannya semenjak tadi. 

"— sebenarnya tadi itu... Aku bertemu orang aneh..." 
 
"Aneh?" 

"Entahlah, tapi aku heran kenapa dia bisa menciptakan api dari tangannya— walau aku hanya melihatnya sekilas," 

Ryusei mendongakkan kepalanya, "Api?"merasa sedikit terkejut. 

"— umm. Dan dia... Mengaku namanya Red Satan." 

Brak 

Ryusei tercekang, dia berdiri dari tempat duduknya sambil menggebrak meja pelan. 

Koui keheranan dengan tingkah Ryusei, "Eh? Kenapa?". 

Ryusei menggelengkan kepalanya pelan. "Umm... Tidak... Tidak papa,"lalu mengalihkan perhatiannya kearah lain. 

Koui hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. 

"— kapan dan dimana kau bertemu dia?" 

"Umm... Siang tadi, saat aku membeli bahan makanan. Aku bertemu dengannya dipuncak bukit saat menuju rumah." 

"— oh..." 

Koui merasa ganjil, ada yang aneh dengan tingkah Ryusei siang ini. 

"— oi... Kau marah padaku karena masakanku tidak enak hanya gara-gara memikirkan laki-laki bernama aneh itu? Mau kubuatkan ulang mienya?"tawar Koui. 

"— jangan buang-buang makanan. Biar kuhabiskan saja."sergah Ryusei cepat, ia kembali duduk. 

"Baguslah,"kata Koui singkat, dia membalikkan badanya untuk kembali menuntaskan pekerjaannya mencuci piring. 

Dimeja makan sana, Ryusei memperhatikkan punggung itu dengan tatapan kosong. 

Perkataannya mengenai 'Red Satan' membuatnya terganggu. 

Jadi 

Koui sudah bertemu 

... Satan? 

Sambil meraih sendok, pikirannya kembali melayang. 

Andai Koui tau. 

Apa yang sebenarnya arti kata 'Satan'. 

#*# 

Koui menyadarinya. 

Ada yang aneh dengan pria bernama 'Red Satan' itu. 

Penampilannya terkesan 'berandal' dengan baju terbuka dan membawa sebuah pedang dipunggungnya.
Kau tahu, benda itu sangatlah berbahaya. 

Glek. 

Jangan bilang pedang itu digunakan untuk membunuh orang. Koui jadi ngeri memebayangkannya.
Kesan 'berandalan'nyapun semakin diperkuat oleh telinganya yang berujung runcing. 

Hah? Kenapa bisa seperti itu? Operasi peruncingan telinga mungkin? 

Gak, jangan ngaco dulu. 

Ngomong-ngomong, yang paling membuatnya ganjil adalah nama pria tersebut, 'Red Satan'.
Terutama pada kata 'Satan'nya. 

Entah kenapa, kata ini mengingatkannya pada perkataan Ryusei yang sempat terlupakan. 

'Fisik Satan menyerupai manusia biasa, dan bisa berubah menjadi bentuk Satan jika mereka menggunakan kekuatan mereka—' 

Satu alisnya terangkat. 

Jadi, maksudnya, pria itu adalah 'Satan'? 

Tidak mungkin. Impossible. Ingat perkataannya yang pernah terucap, 'Satan itu tidak ada'. 

Selagi memikirkan itu, dia juga mengingat perkataan Ryusei yang lain, 'Jika kau melihat seseorang memiliki bola berwarna dengan tanda Segitiga Satan, maka dia adalah anak Satan yang menyamar—'. 

Tuh, kan. 

Tak mungkin pria itu adalah Satan. 

Karena faktanya, pria itu tak memiliki 'Bola Segitiga Satan'. 

Dan itu berarti pria itu bukan Satan. 

Penampilan dan namanya itu cuma kebetulan. 

Kebetulan. 

Pada akhirnya, Koui bisa bernafas lega. 

Mulai sekarang, dia tak perlu memikirkan pria aneh itu lagi, karena telah mengetahui keganjilan pria itu hanyalah suatu kebetulan belaka. 

#*# 

Angin malam berhembus kejendela kamar Koui yang terbuka. 

Angin yang bertiup lembut itu menerpa pelan wajah sang pemilik kamar, Koui, yang tengah terlelap. 

Dingin. 

Dia bisa merasakan dinginnya angin malam. 

Perlahan, kelopak mata itu terbuka, membiarkan sekerjap sinar redup memasuki retinanya. 

Disinari sinar rembulan diruang gelap gulita itu, dengan susah payah ia menahan kantuk. 

Griiet. 

Dia bangkit dikasurnya, meraih ujung penutup jendela, dan mulai berusaha menutupnya. 

"—Koui-kun..." 

"—?!"ia terkejut, badannya kontan langsung mundur. 

Dengan tubuh gemetar, ia memeluk guling sebagai prisai. 

"Si— siapa?!"dia menodongkan benda padat terdekat, sebuah jam weker berbahan dasar logam.
Lewat jendela, 'seseorang' itu mulai melangkah masuk. 

"Oi! Tenang, aku disini bukan untuk membunuhmu,"ujar 'seseorang' itu pelan, dengan nada yang kurang meyakinkan. 

Masih dengan tubuh gemetar, Koui dengan ancang-ancang siap melempar berkata, "Siapa kamu?!". 

"— Red Satan...". 

Sinar rembulan menyinarinya yang masih membelakangi jendela. Seketika itulah, sekilas penglihatan Koui menjadi jelas. 

Terpampang jelas didepannya wajah seseorang yang selama ini menghantui pikirannya. 

Red Satan. 

Sebelum itu, Koui bernafas lega. 

Lega hatinya karena yang ditemuinya itu bukanlah mahluk yang disebut hantu. 

Setelah tenang, dia kembali meletakkan jam tersebut ketempat semula. "Mau apa kau kesini malam-malam?". 

Sambil duduk tepat dipintu jendela, dia menyilangkan sebelah kakinya dengan santai. 

Satu kata yang bisa Koui cap pada orang depannya ini. 

Orang ini, 
 
Sok kenal. 

Padahal baru aja kenal siang ini, malemnya dateng kerumahnya malam-malam tanpa seizinnya. 

Sungguh terlalu. 

Dia menghela nafas, "Kau tahu, aku tidak punya rumah setelah aku dikirimkan kedunia ini—" 

"— apa?"omongannya terpotong, didepannya Koui memasang tampang 'jadi-kau-dari-dunia-mana?'. 

"Haha... Tidak, tidak. Lupakan omonganku tadi,"sambil tertawa renyah, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "— jadi intinya, aku tidak punya rumah. Boleh aku menginap disini?" 

"— hah?"Koui cengo seketika. Sempat-sempat otaknya loading disaat keadaan absurd begini. 

"Aku tanya. Apa aku boleh tinggal disini?"dia berkata lagi, kali ini sedikit ditekan. Dia berdiri dari posisi duduknya, lalu berdiri mendekati kasur dengan jarak satu meter didepannya. 

"Tu— tunggu!" 

Sambil memegang ujung ganggang pedangnya, langkah itu semakin mendekat. Membuat bulu kudu Koui makin berdiri. 

Entah kenapa, dia merasa takut sekarang. 

Kenapa? 

Padahal didepannya itu hanya sesosok pria, manusia biasa. 

Semakin dekat, satu kakinya menaiki kasur, membuat Koui makin terpojok kedinding. 

"Tid—" 

Tap! 

"Biarkan aku menginap..." 

Satu tangannya tepat mendarat disamping kepala Koui, menyangga pada dinding. Sementara tangan satunya, memegang ujung ganggang pedang. Membuat Koui tergagap. 

Glek. 

Koui menelan ludahnya berat. 

Dia salah. 

Orang didepannya ini... 

Mungkin bukan manusia... 

"Ka— kau—!"Koui yang merasa terancam, dengan segera menimpuk muka tersangka dengan bantal ditangannya, membuat sang tersangka terjungkal kebelakang dan seketika terlentang dikasur. 

Baju yang memang hanya dikancingi oleh satu kancing itu, kini terbuka dengan bebas memperlihatkan bentuk badan bagian atas pria tersebut. Terpampang jelas juga kalung rantai yang dikenakannya, dengan berbandul bulat berwarna merah yang sepertinya terbuat dari kaca. 

Koui sempat merasa heran, kenapa pria didepannya ini tidak merasa kedinginan dengan baju terbuka seperti itu? 

Dia saja, yang sudah memakai baju panjang dan selimut tebal masih merasa kedinginan. 

Yang lebih penting dari pada itu, kenapa orang ini bisa masuk kekamarnya lewat jendela yang berada dilantai dua...?! 

"Apa yang kau lakukan, bodoooh...! Kau seenaknya masuk rumah orang malam-malam begini, dan sekarang memaksa menginap?! Kita ini baru kenal beberapa jam lalu, tau...!"Koui menindih pria di bawahnya, dan menerjang wajah pria tersebut dengan guling bertubi-tubi, membuat sipemilik wajah meringis berkali-kali. 

"Oi—! Hen... Hentikan!"pria itu menyilangkan kedua tangannya umpama prisai, berusaha menghidari benturan yang ditujukannya bertubi-tubi. 

Namun, Koui masih tetap memukuli pria itu tanpa ampun. 

"Hen— hentikan!"pria itu menggemgam tangan Koui erat, menahan gerakan tangan Koui yang sedari tadi mengganggunya. 

"Ah..."Koui tercekat, tangannya betul-betul dicengkram oleh pria dibawahnya, betul-betul erat.
Sangking eratnya, pergelangan tangannya betul-betul sakit. 

Rasanya panas... 

Panas sepanas api. 

"Ma— maaf..."pria itu melepaskan cengkraman tangannya. 

Sempat-sempat Koui melihat kearah tangannya. 

Walau tidak jelas karena pasokan cahaya yang minim, Koui masih bisa melihatnya. 

Pergelangan tanggannya merah, dan rasa panasnya masih terasa. 

Koui segera mundur dari posisi menindihnya, menyender pada dinding dan memandang kedua pergelangan tangannya. Ada sebersit rasa tidak percaya di hatinya. 

Hanya cengkraman tangan biasa, kenapa bisa? 

Pria itu mengubah posisinya yang dari terlentang menjadi duduk, lalu menatap Koui dengan perasaan khawatir, "Kau—?". 

Segera Koui menyembunyikan tanggannya dibalik punggungnya. "Tidak, bukan apa-apa!". 

Pria itu memalingkan badannya, lalu bangkit dari kasur dan menuju kearah jendela. 

Satu kakinya menaiki ambang jendela. 

Jangan bilang... Dia mau lompat lewat jendela? 

"Kau—? Mau lompat dari jendela?"Koui merangkak dari posisi duduknya, memandang tidak percaya dengan tindakan orang didepannya. 

Hyuuuuunng 

Benar saja, pria itu menjatuhkan dirinya keluar jendela, jendela dilantai 2 kamar. 

"Ti— tidak—!"Koui segera berlari kearah jendela, menyaksikan apa yang terjadi pada pria yang nekat melompat dari jendela itu. 

Jatuh dari lantai 2, 

Itu bisa menyebabkan kematian. 

Koui melihat kearah bawah jendela, berharap pria itu baik-baik saja. 

Tapi... 

Dia tak melihat apapun disana. Jangankan mayatnya, setetes darahpun tidak.
Seketika itu Koui merasa ada yang aneh. 

Mana ada orang selamat saat melompat dari lantai 2. 

"Ti... Tidak mungkin—". 

Koui menatap kearah langit, tepat dimana bulan berada. 

Disana pula, dia melihat sosok yang dicarinya. 

Dia terbang diangkasa. 

Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan seorang manusia. 

Koui menatap tidak percaya pada pria yang terbang bak sedang berdiri ditanah seperti semestinya, dilatar belakangi oleh bulan penuh keputih-biruan. 

"A— apa?"Koui tergagap, dugaannya benar-benar tak bisa disangkal. 

Mungkin... Mungkin memang benar dia bukan manusia. 

Diangkasa pula, pria itu menatap Koui, lalu tersenyum simpul. 

"Aku... Aku bukan manusia..."katanya pelan, tatapan sayu dia sorotkan pada Koui. 

Kalung rantai berbandul bulat itu menyala, disertai dengan sebuah tanda dibandul itu yang kian lama kian terang, menjadi jelas. 

Itu... Tanda seperti yang diceritakan Ryusei. 

Tanda Segitiga Satan, disertai 8 titik yang juga menghias bandul merah tersebut.
"Red— Satan...?" 

Api merah menyala muncul dari seluruh bagian tubuh pria tersebut, membuatnya seolah-olah terbakar.
Koui meneguk ludahnya, "... Jadi kau itu... Apa?" 

Pria itu mendekat kearah Koui, tanpa menggerakkan anggota badannyapun, badannya mendekat sendiri.
Tubuh dengan nyala api itu menarik tangan Koui, membuatnya keluar dari ambang jendela. 

"Huwaaah...?!"Koui mendadak panik, dia takut tangannya terbakar. Itu api sungguhan. 

Tapi aneh, dia sama sekali tidak merasakan panas. Beda dengan insiden pria itu mengcengkram tangannya tadi. 

Selagi memikirkan itu, tau-tau dirinya sudah tidak menginjak tanah. 

Dia tidak jatuh, dia melayang diudara, sama seperti pria itu sekarang. Dan saat itulah, pria itu melepaskan genggaman tangannya. 

"Huuuwwaaahhhh...?!"Koui mengepakkan kedua tangannya, takut-takut dirinya akan terjatuh. 

Tubuhnya terbalik, lalu memutar, membuat Koui tambah panik. Tubuhnya terus-terusan berputar diudara, tanpa ada gejala akan segera jatuh ketanah. 

Lama kelamaan Koui merasa mual berputar-putar diudara. 

Grab. 

Punggungnya bertabrakan dengan sesuatu, dan sepasang tangan dari belakang tubuhnya itu mengitari pinggangnya. 

Koui mendongak, melihat kearah belakang. 

Pria itu menahannya agar tidak bebas diudara. 

"Aku adalah anak Satan," 


Pria itu memulai penjelasannya. 



"...!" 

Koui menepis tangan pria itu dari pinggangnya, lalu menjauh sebisanya. Koui menatap pria itu tidak percaya, "Satan...?". 

Koui termenung sejenak, padahal sudah jelas-jelas dia yakin kalau Satan itu tidak ada. Tapi nyatanya... Satan itu ada, seperti yang dikatakan Ryusei. 

Jadi, apa artinya Satan didunia ini? 

'Misi mereka adalah menghancurkan umat manusia—' 

Glek. 

"... Jadi kau disini ini... Untuk menghancurkan umat manusia...?" 

"......"
Pria itu terlihat menunduk, menatap tangannya sejenak. 

"... Itu perintah Maharaja Satan— Ayahku, jadi memang benar aku disini untuk menghancurkan kalian." 

Koui semakin mundur, dengan tenaga semampunya untuk menjaga keseimbangannya terbang. 

"... Kenapa?" 

"... Akupun tak tahu,"api yang membakar tubuh pria itu mulai mereda, lalu perlahan tubuhnya kembali ketanah. 

Dan pada saat itulah, 

"HUUUUUWWWAAAAAAAHHH?!!"Koui berteriak kencang, ketika dirinya melesat jatuh ditarik gravitasi. 

Koui memejamkan matanya erat-erat, merasa hidupnya akan berakhir sekarang.

GRAB 

Koui merasakan badannya ditangkap sesuatu. 

"Kau tidak apa-apa?" 

Pria itu menangkap tubuhnya. 

Koui membuka matanya perlahan. Terpampang jelas wajah khawatir pria itu. 

Dia bersyukur karena selamat. 

"Turunkan..." 

Dengan segera pria itu menurunkan tubuh yang beberapa saat lalu digendongnya. 

"......" 

Pria itu menatap Koui sejenak, lalu tersenyum simpul. 

"Rahasiakan hal tadi. Sekarang, aku harus pergi," 

"—?" 

Pria itu membalikkan badannya, perlahan berjalan pergi dari hadapan Koui. 

"Sho—" 

Pria itu memutar badannya, "?". 

"Shou— boleh kupanggil begitu?"Koui menatap pria itu serius. 

" ... ?" 

"Bolehkan aku memanggilmu Shou?" 

"Shou...?" 
 
"Itu nama yang kuberikan padamu... g— errr... Kalau kau tidak keberatan—" 

"Aku suka nama itu," 

Koui menatap pria itu dengan kaget. 

Pria itu memutar kembali badannya, "Mulai sekarang, namaku... Shou." 

Koui mengembangkan senyumnya. 

Pria itu— Shou, mulai menjauh dari hadapan Koui. 

Tap. 

"Terima kasih—"dia berhenti sejenak ditempatnya berpijak, "Telah memberiku nama—"lalu mulai berjalan lagi. 

#*# 

Setelah memastikan perlengkapan sekolahnya siap, Ryusei segera angkat kaki dari kamarnya. Untuk jaga-jaga, dia juga telah mengunci kamarnya. 

Sebelum menuruni tangga, dia mampir sejenak kekamar Koui, yang tepat disebelah kamarnya.
Tok, tok, tok... 

"Koui?" 

Tidak ada sahutan. 

Ryusei menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung. Tidak biasanya Koui tidak menyahut panggilannya seperti tadi. 

Ah, 

Mungkin Koui sedang tidak dikamar. 

Setelah memastikan hipotensi tersebut, dia kembali melangkah. 

Sambil menuruni tangga, dia memanggil-manggil nama teman serumahnya itu. Berharap segelintir sahutan terterka. 

"Koui!" 

— percuma, dia tak mendapat sebuah sahutan yang berarti. 

Ryusei berkeliling rumah mencari temannya itu, dari lantai dua sampai lantai satu. 

Ryusei berhenti melangkah sejenak. Hari ini, selama berkeliling rumah, dia tak melihat sosok manusia yang tinggal bersamanya itu. 

Sebelah alisnya terangkat. 

Coba diingat-ingat, siapa tau beberapa menit lalu Koui izin keluar rumah dengannya. 

Tapi, nihil. 

Ryusei tak pernah ingat kalau Koui izin keluar rumah dengannya. Jika memang iya, tidak mungkin Ryusei sampai lupa. 

Wajah Ryusei pucat pasi, entah kenapa dia berfikir kalau Koui mungkin saja diculik. 

Ryusei menampar wajahnya. Tidak, tidak mungkin Koui diculik. 

Saat dia tengah putus asa, diapun memutuskan untuk melaporkannya kepolisi, atau bisa, pada orang tua Koui langsung. 

Masih dengan mengenakan baju sekolah, dia rela membuat baju sekolahnya compang-camping dibawa lari, demi Koui. 

BRAAK 

Ryusei membanting pintu utama rumah. 

"Ko—" 

Matanya membulat. Disana, dia melihat Koui tergeletak direrumputan halaman. 

Dia terlelap, dengan angin pagi menerbangi helaian rambutnya, membuatnya tampak betul-betul damai. 

"Koui...?" 

Ryusei berjalan pelan menghampiri Koui, memperhatikan wajah polos yang tengah terlelap itu.
"Ba— bagaimana bisa...?" 

Ryusei tercekang ditempat. Secara logika, tidak mungkin seseorang yang awalnya tidur dilantai dua, tiba-tiba berpindah tempat kelantai bawah, masih dengan keadaan tertidur. 
 
Bagaimana mungkin...? 

Ryusei meneguk ludahnya, ini adalah suatu hal yang patut dipertanyakannya saat Koui bangun nanti. 

#*# 

'Aku adalah anak Satan—' 

"Ko—" 

'Memang benar aku disini untuk menghancurkan kalian—' 

"—ui!" 
 
'Aku suka—' 

"KOUI!" 

DEG 

"HAH... HAH...!" 

Mata Koui terbuka lebar, tiba-tiba. Alih-alih dari posisi tidur, dengan sigap menegakkan badannya.
Koui bangkit dengan nafas terengah-engah, kontan mengepalkan sebelah tangannya didepan dada. 

"Hah... Hah..." 

"Koui...?" 

Disana, dia melihat Ryusei disebelahnya dengan wajah khawatir. 

"...... Aku— kenapa?"dia bertanya. Kepalanya sakit sekarang, membuatnya tak bisa mengingat apa yang terjadi padanya sebelumnya. 

"... Justru aku yang seharusnya bertanya, kau kenapa?". 

"......"Koui memegang kepalanya, berfikir sejenak. 

"Aku... Tak ingat apa-apa..."akunya kemudian. Mau diingat-ingat selama apapun, dia tak bisa mengingat apa yang terjadi pada dirinya. 

Ryusei menghela nafasnya, "Pagi ini kau tergeletak dihalaman rumah, padahal tadi malam kau masih dikamarmu. Aku tidak tahu bagaimana caranya kau berpindah tempat ke lantai dasar masih dengan keadaan tertidur,"jelasnya. 

"......"Koui memijit pelan keningnya. Setelah mendengar pernyataan Ryusei barusan, justru membuatnya tambah pusing. 

"... Jadi? Bagaimana bisa kau pindah saat masih tertidur?"Ryusei kembali menekan Koui karena rasa penasarannya. 

"......"Koui menundukkan kepalanya. 

Ryusei duduk menyila dipinggir kasur yang Koui baringi, "Ah... Seharusnya aku tanyakan itu nanti saja. Kasihan kau, baru sadar sudah kupertanyakan seperti tadi." 

Koui mengangguk pelan. Dia menoleh sekilas kearah jam dinding dipojokan, jam 11 pagi. 

Koui menyerngitkan keningnya, "Kau tidak sekolah?". 

"Aku izin. Kasihan, kan, kalau membiarkanmu sendiri dirumah,". 

"Kau tidak perlu menjagaku sampai segitunya, kan..." 

"Biarlah, sudah terlanjur juga,"Ryusei berdiri, lalu mengambil sebuah nampan berisi bubur dimeja dekat kasur Koui. 

Dia menyendok bubur itu, lalu mengarahkannya tepat didepan wajah Koui, "Makan." 

Koui menggeleng pelan, "Nanti biar aku sendiri." 

"Yakin?". 

"Yakin,". 

Ryusei meletakkan nampan berisi semangkuk bubur itu kembali ketempat semula. 

"Kalau begitu, aku pergi keluar dulu membeli beberapa cemilan.". 

Koui mengangguk lagi. 

Ryusei melangkahkan kakinya kearah pintu, lalu membukanya dan keluar dari kamar Koui. 

Sekarang, Koui sendiri dirumah. 

"Fuuh..." 

Koui menempelkan punggung tangannya pada keningnya, lalu kembali berbaring. 

Kenapa? Kenapa dia tidak bisa mengingat apapun? 

"Satan..." 

Dia bergumam tiba-tiba. 

Matanya sedikit terbelalak, 

Ya. 

Dia ingat sekarang. 

Tadi malam dia—

"Satan..." 

— menemui 'Satan', kan? 

Kenapa dia baru ingat sekarang? 

Detik berikutnya, Koui yang sedang menatap nanar pintu yang barusan Ryusei lalui, merasakan firasat buruk.

#*# 

Ryusei mengendarai motornya di pemukiman yang agak sepi. Sambil memfokuskan matanya pada jalan, sesekali dia melihat beberapa orang berlarian searah dengannya dari pantulan kaca spion. Dan hal itu terus berulang. 

Kenapa banyak orang berlarian dengan tergesa-gesa? Apa ada sesuatu yang terjadi? 

Ryusei cuek. Masa bodo, toh, bukan urusannya. 

Ryusei kembali melanjutkan perjalananya. 

Tepat didepan sana, terdapat 3 cabang jalan. Jalan untuk kesuper market adalah sebelah kiri. 

Otomatis Ryusei membelokkan motornya kearah kiri saat tepat diperbatasan jalan. 

Tepat selang beberapa detik dia membelokkan motornya, dari kaca spion, dia melihat disebrang jalan sana— jalan jika belok kekanan, api besar menyulut rumah disekitarnya. 

CKKKIIIIIITT 

Ryusei mengerem mendadak, membuat motornya oleng dan menghadap serong, tidak lagi kedepan. 

"Ke... Bakaran...?"Ryusei tergangga ditempat. Masih dengan keadaan duduk dimotor yang berkemiringan 25 derajat. 

Pantas saja selama perjalanan dia banyak melihat orang berlarian kearah yang sama dengannya. 

'Tidak salah lagi...' 

Tanpa pikir panjang, dia membalikkan motornya, menuju ke tempat kejadian perkara. 

#*# 

Dia berdiri disana. Bajunya yang terbuka berkibaran bebas di udara, dengan surai merah yang ikut terbawa.

ZRRRAAAAAKHH 

Di depannya, api raksasa menyulut bangunan di hadapannya. 

Tanpa peduli keadaan, tanpa peduli resiko, dan tanpa peduli akan rasa takut terbakar. Kakinya dengan mantap melangkah kekobaran api di depan sana. 

Dengan tatapan kosong, ia berjalan kearah bangunan yang hampir sepenuhnya musnah itu.
Tanpa dia sadari, seseorang menatapnya dari kejauhan. 

Tanpa adanya panggilan, apalagi bertatap muka. Seseorang di sana tengah menatap pria bersurai merah nan jauh di depannya itu. Dia menghela nafasnya dalam, seolah-olah sedang menghadapi sesuatu yang sungguh berat. 

"Kamu—!" 

Dia menoleh. 

Di belakang sana, dia melihat seseorang dengan surai biru menatapnya dengan khawatir. 

"Jangan—! Di sana berbahaya!"— dia berlari, berusaha menempatkan dirinya pada posisi pria bersurai merah itu. 

Dia membuang mukanya dengan angkuh, "Apa pedulimu?". 

Si surai biru berhenti di tempat, "......". 

Satu tolehan kembali diarahkan kepada si surai biru. Dia bisa melihatnya terdiam di sana.
Si surai biru kembali melangkahkan kakinya. "... Kamu...". 

".......?" 

"Red Satan, kan?"lalu berhenti tepat di depan pria itu yang tinggal selangkah lagi. 

"—?!" 

"Sebenarnya, aku—" 

Drrr... Drrr... Drrr... 

Omongannya terhenti, saat dirasa suara getaran ponselnya terdengar. Dia meraih ponsel di sakunya, lalu dengan sekilas matanya melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. 

Ryusaki Koui. 

'Koui...? Kenapa dia menelfonku?'pikirnya. Tanpa pikir panjang, dia mengangkatnya. 

"Halo? Koui?" 

"Ryusei, kau di mana?!"suara itu terdengar terengah-engah. Membuat Ryusei sang penerima telefon memiringkan kepalanya. Apakah Koui sedang berlari? 

"Aku—" 

PRAAAKKK 

Belum sempat ada jawaban, ponselnya tiba-tiba terpelanting kebelakang. 

Sesuatu dilempar kearah ponselnya, membuat ponselnya tergores hebat, bahkan hampir terbelah dua.
Ryusei membelalakkan matanya, sesuatu yang sama, juga mengenai pipinya, membuat ukiran goresan panjang. 

"—?!" 

Di depannya, Red Satan mengarahkan pedangnya yang tersulut api tepat di sebelah kepalanya. Membuat pipinya terasa terbakar. 

Ponsel yang tadi digenggamannya, kini telah hancur dan tidak bisa digunakan lagi. Ryusei jadi miris hati, itu adalah ponsel berharga semasa hidupnya. 

Lebih dari itu, sebaiknya dia mengkhawatirkan posisinya yang terancam. 

"Beritahu aku, siapa dirimu." 

#*# 

Tut... Tut... Tut... 
 
"Cih..." 

Koui menatap jengkel kearah ponselnya. Sambungan telefonnya terputus tiba-tiba, padahal baru saja selang beberapa detik dia berbicara dengan orang di sebrang sana. 

Dia yakin, pasti ada sesuatu. 

Koui kembali menaruh ponselnya di sakunya. Lalu kembali konsentrasi mengendarai sepedanya.
Tak peduli selelah apapun tubuhnya, dia memaksakan dirinya tetap mengayuh sepeda kearah tujuan. 

Instingnya mengatakan, sesuatu akan terjadi pada Ryusei. Tapi masalahnya, dia tidak tahu dimana Ryusei berada sekarang. 

Tiba-tiba pandangannya teralih pada segerombolan orang berkumpul ditepi jalan. 

Karena diselimuti rasa penasaran, Koui menghentikan sepedanya tepat didepan orang tersebut, lalu bertanya, "Ada apa?". 

"Terjadi kebakaran hebat dijalan X blok VI. Sangking hebatnya, sampai tidak ada yang berani mendekat. Pemadam kebakaranpun sulit untuk memasuki lokasi." 

"Eh—!"Koui ingat, tempat itu dekat jalan kearah supermarket. 

'Aku pergi keluar dulu membeli beberapa cemilan,'—dan teringat omongan terakhir Ryusei.
Bukankah itu berarti... Dia dekat dengan lokasi kebakarannya? 

"La— lalu apakah ada orang yang tejebak?!"Koui mendadak antusias bertanya. 

"Itulah, seseorang melihat anak berambut biru memasuki lokasi kebakaran tersebut dengan motornya."
Rambut biru, mengendarai motor. 

Tidak salah lagi, itu pasti—

"Terima kasih untuk informasinya!"Koui segera mengayuh sepedanya 2 kali lebih cepat, membuat dirinya melesat cepat meninggalkan tempat sebelumnya dia berpijak. 

"He— hei! Mau kemana kau—?!"orang tersebut berusaha melerai, tapi tak berhasil. 

Sementara diperjalanan Koui jadi resah. Ryusei... Ryusei dalam bahaya. 

Dan omong-omong tentang kebakaran, mengingatkannya pada api. Yang namanya kebakaran, pasti menyangkut kata 'api'. Dan omong-omong tentang api, kenapa dia teringat dengan Red Satan— Shou? 

Apakah itu berarti... Kebakaran yang terjadi ada hubungannya dengan Shou? 

Koui tak tahu. 

#*# 

"Beritahu aku, siapa dirimu." 

Ryusei dalam bahaya. Pedang dikepalanya itu, membuat pipinya betul-betul panas. Salah gerak sedikit saja, kepalanya bisa terbakar. 

Namun ditutupi oleh surai birunya, wajahnya malah nampak tersenyum. Senyuman angkuh, seolah-olah orang didepannya bukanlah apa-apa baginya. 

Dia terlihat tenang, walau dalam posisi bahaya. Dengan posisi seperti itu, sempat-sempatnya dia tersenyum.
Namun, Red Satan belum menyadari itu. 

Masih dengan posisinya yang berbahaya, Ryusei menepis pedang itu dengan punggung tangannya, yang membuat Red Satan bertanya-tanya. Apa dia tidak merasakan panas? 

"Phuh..."Ryusei menyunggingkan seringainya. 

Dan— 

"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA...!"—tertawa sepuasnya sampai dirinya tidak terkontrol. 

" ... ?" 

"Kau mau tahu, siapa aku?! Benar-benar mau tahu?!". 

"Cih..."Red Satan mendecih, dia merasa diremehkan. Pedangnya itu kembali diarahkannya pada Ryusei. 

"Phuh... Percuma. Kau tidak akan bisa melukaiku..."Ryusei kembali memberikan seringai mematikannya. 
 
"Apa—" 

Red Satan terdiam sejenak, apa maksud ucapannya? Memang dia siapa? 

"Aku, Yamasaki Ryusei, sebenarnya adalah—" 

"Hentikan omong kosongmu! Manusia rendahan sepertimu lebih baik diam berlutut dihadapanku! Lagipula, apa maksudmu datang kemari lalu mentertawaiku?!"Red Satan menancapkan pedangnya ditanah keras-keras, membuat sekeliling mereka tersulut api. 

"Manusia rendahan, katamu?"Ryusei bertanya dengan angkuhnya. Dia tidak takut dengan ancaman tubuhnya akan terbakar. "Lihatlah dirimu— bukankah dirimu sendiri seorang Iblis yang lemah? Bukankah kau hanya budak yang dipergunakan untuk—" 

GRAB 

Kerah baju Ryusei terangkat, dan tepat didepan wajahnya kepalan tangan tersulut api siap menghantamnya.
"DIAM, KUBILANG DIAM! KAU TIDAK MENGERTI JUGA, HAH?!"dia menatap Ryusei tajam. Mata tajam itu sungguh mengerikan, membuat Ryusei sedikit bergidik. 

Cengkraman dibajunya itu perlahan melonggar, "Tugasku disini adalah menghancurkan mahluk rendahan sepertimu. Jadi jangan banyak omong."lalu didorongnya tubuh Ryusei keras-keras hingga terduduk ditanah. Dia mencabut pedang apinya dari tanah, lalu mengarahkan pedang itu didada Ryusei, tepat dimana jantungnya berada. 

"Bagaimana kalau kuhancurkan dulu dirimu sebagai percobaan?"dia menyeringai, "Bersiaplah, Ryusei-kun. Tubuhmu akan kubakar hingga ketulang-tulang. Mau, kan, jadi kelinci percobaanku?". 

Ryusei terdiam. 

"Kuanggap sebagai 'iya'." 

Tanpa memberi waktu untuk menunggu jawaban, Red Satan segera melesatkan pedangnya itu ketubuh Ryusei, membuat Ryusei terbelalak. 

"Henti—" 

"— SHOU!" 

Satu senti lagi. Satu senti lagi pedang itu hampir menembus jantungnya. Keringat dingin bercucuran dari tubuhnya, takut-takut melakukan suatu kesalahan berakibat fatal. Ryusei memundurkan tubuhnya pelan, berharap jarak antara tubuhnya dan pedang itu agak sedikit menjauh. 

Kalau— kalau saja orang itu tidak ada... 

"Koui?" 

— Apa yang mungkin akan terjadi? 

"Shou... Ryusei... Apa yang...?" 

Dibalik celah kobaran api merah itu, Ryusei melihat jelas pada seseorang diujung sana. Tubuhnya gemetaran, dengan raut yang nampak terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. 

"Koui-kun?"Red Satan sama kagetnya. Tatapan mata mereka saling bertemu, membuat Ryusei semakin kebingungan. 

Kenapa... Kenapa Koui bisa disini? Bukankah dia tidak memberitahu Koui kalau dia berada disini?

Dan terlebih lagi, kenapa... Kenapa Koui memanggil Red Satan dengan sebutan 'Shou'? Dan kenapa pula Red Satan memanggilnya dengan sebutan 'Koui-kun'? Sebenarnya, seberapa dekatkah hubungan mereka? 

Yang Ryusei tau, mereka hanya bertemu sekali, karena memang Koui yang menceritakannya. Lalu... Kenapa baru sekali, mereka sudah begini? 

Deretan pertanyaan itu menghantui kepala Ryusei, membuatnya menyerngitkan keningnya, bingung.
Dia menidurkan sepedanya ditanah, "Shou... Apa yang kau lakukan pada Ryusei...?"lalu berlari kearah mereka, meninggalkan rasa takutnya terhadap api. 

"— jangan kesini! Bahaya—" 

"UWWAA!"Koui menyilangkan kedua tangannya didepan kepala, berusaha melindungi dirinya dari api yang menyambar dirinya. 

BRUUK 

Namun percuma, dirinya tetap terjatuh ditanah itulah. 

"Koui-kun—"Red Satan melangkahkan kakinya. Tangannya terjulur, hendak menggapai Koui yang sudah terduduk ditanah itu. 

DOOR 

PRAANG 

Sebuah peluru ditembakkan. Membuat ketiganya terpaku ditempat. Saat itu, darah mulai membanjiri tanah.
"Sho—" 

Bruk 

Dia jatuh terduduk. Serpihan kaca itu tersebar disekitarnya. Membuat tatapannya jadi terpaku.
Serpihan itu... Bukankah itu serpihan Bola Segitiga Satan-nya? Serpihan dari bendungan yang menahan kekuatannya? 

Siapa... Siapa yang melakukan ini padanya? 

WUUUSSSHHH 

Angin bertiup kencang, perlahan awan menjadi gelap mulai terlihat. Ryusei mulai merasakan hawa dingin sekitar. Walau disekitarnya api berkobar, namun hawa dingin itu tetap terasa juga. 

Sama dengan dinginnya tatapan yang diberikan seseorang itu. Ya, seseorang yang berdiri disebuah atap rumah dibalik kobaran api yang baru saja menembakkan pelurunya. 

Tiada yang tahu, kecuali dirinya. Koui maupun Red Satan, tiada yang menyadarinya. 

Tanpa berkedip, dia melihat seseorang itu menghilang dibalik koobaran api. Tanpa berkata, dia hanya bisa terpaku ditempatnya terduduk sekarang. 

Apa... Apa yang barusan terjadi? 



"SSSHHHHHHOOOOOUUU!!" 



Koui berlari menghampiri Red Satan, tak peduli dengan siapa yang baru saja menembak tadi, itu urusan belakangan. Yang penting sekarang— 

ZRAAASSSHHH 

Hujan turun membasahi tempat itu, perlahan membuat api disekitar mereka perlahan-lahan padam. Tanpa peduli keadaannya yang basah kuyub, Koui segera duduk bersimpuh dan memeluk sosok yang sedang memandangi tubuhnya yang berlumuran darah itu. 

"Shou... Shou..."air mata membahasahi pipinya, membuatnya tidak bisa membedakan yang mana air hujan dan air matanya. 

"Tenang saja—"Red Satan— Shou, mendorong pelan tubuh Koui agar tidak memeluknya lagi, lalu menatap wajah itu sambil tersenyum. 

Koui kembali merasa air matanya tak terbendung lagi, makala melihat keadaan Shou yang sudah lemah itu, namun masih bisa bilang 'baik-baik saja' padanya. 

Dibelainya pipi basah Koui, membuat pipinya ternodai dengan lumuran darah. "Aku pasti... Akan baik-baik saja. Karena aku... Adalah anak Satan— kh... uhuk... UHUK!" 

Didepannya, Shou muntah darah. Walau mulutnya tengah dibungkam oleh tangannya sendiri, namun darah itu tetap menetes dari sela-sela tangannya. Darah yang tak terbendung lagi itu, membasahi bajunya dan menyiprati baju dan wajah Koui. 

Bruk 

Lalu kepala itu jatuh dipundaknya, membuat Koui membatu ditempat. 

Tidak... Mungkin... 

Api sekitar mereka telah sepenuhnya padam, bersamaan pula dengan hilangnya gerakan dari Red Satan.
"Khh— uwaaaa... HHUUUWWAAAA!"Koui memeluk erat tubuh basah tak berdaya itu, bersamaan pula dengan tangisnya yang sudah lama pecah. 

Tubuh dengan lumuran darah itu bersinar, dengan baju yang dikenakannya berkibar bagai ditiup angin. Serpihan disekitarnya ikut terangkat, lalu pecah menjadi serpihan kecil lagi hingga tak bisa dilihat dengan mata, lenyap. 

Semakin lama sinar itu semakin terang, lalu menghilang bersamaan dengan semua yang kini dikenakan olehnya. Telinganya yang berujung lancippun berubah menjadi telinga manusia normal, manusia pada umumnya. 

Kekuatannyapun, mungkin sekarang sudah tidak ada lagi. 

Red Satan, alias Shou, telah sepenuhnya menjadi manusia. 

Hanya karena hancurnya bola itu, bola yang selama ini menyimpan semua kekuatannya. 

Sementara itu, didekat sana, Ryusei menatap nanar pada awan gelap yang menjatuhkan jutaan tetes air itu, pikirannya melayang. 

Siapa... Orang itu... Sebenarnya? 

Dia masih mempertanyakan itu pada dirinya sendiri. 

-BERSAMBUNG-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar