PERCOBAAN, LAGI!
Ini apaan, sih, mpret? Mau buat wattpad, tapi agak ragu. Mana cerita yang pertama kepikiran adalah cerita LGBT. Astagfirullah ... //istighfar
Dan tau gak, apa yang lebih brengseknya? Pemeran utamanya ini bapaknya si Rizky ama Ricky (Reader : Lha, siapa?) Mereka karakter di novelku yang sekang alhamdullilah udah kelar. Kisah tentang alasan kenapa bapak dan emak mereka bisa bercerai, dari mana dia kenal Mr. Jonathan ... dan brengseknya lagi-lagi gw tambahin unsur homo. YA RAB ... KAPAN GW TOBAT?
Cuma prolog. Untuk judul masih wanted alias dicari. Ada yang mau nambahin?
Pertama-tama gw minta maaf atas bahasa Inggrisnya yang mungkin masih kacau. Gw baru kelas satu SMA, bro ... Maklumi. Ya, ya?
.
.
.
Taufik @ Dilema
Prolog : DON’T SAY SUCK A BADDAS THING!
by Yoshi_245 aka Nisrin D.
(Nisrin? Sengaja ...)
Enjoy!
.
.
.
Taufik, I love you. Wanna be my lover?
Aku mengernyitkan dahi ketika membaca sebuah SMS masuk dari ponselku. Nico. Dari bahasanya saja sudah terdengar seperti candaan garing yang sengaja dia kirimkan untuk mempermainkanku.
To : Nico
Huh? What the fuck are you saying?
From : Nico
I love you. Will you accept my feeling?
To : Nico
Are you an idiot or what? Of course, I refuse!
From : Nico
Why?
To : Nico
Why, you say? Because we both are guys. Don’t say such a baddas thing, idiot!
Setelah itu ponselku berhenti bedering. Tidak ada SMS baru masuk. Aku menghela napasku jengkel, lalu membanting ponsel ke jok mobil.
“Who?” Joe yang berada di sebelahku bertanya dengan nada penasaran. Mata emerlad-nya melirik sebentar ke arahku, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. Yah, dia sedang menyetir sekarang. Aku kemudian balas dengan kedikan bahu.
“Nico. That idiot saying such a weird thing— he ask me to be his lover! Man, the way he’s saying is really disgusting!” aku menggerutu kemudian. Tentunya, siapa yang tidak menggerutu ketika seorang teman yang jelas-jelas tahu kalian bukan seorang homosexsual, tiba-tiba menembak dengan cara terang-terangan begitu? Dan sejak kapan playboy brengsek itu menjadi gay?
Joe kemudian tertawa renyah. “Hahaha. He is really an idiot. Just ignore him,” sarannya kemudian. Aku mengangguk mengiyakannya sambil terus menggerutu. Damn, dia benar-benar membuatku kesal hari ini. Perkataannya sungguh-sungguh menjijikkan!
Kemudian mobil Joe melaju pelan. Joe mengapit sebatang rokok pada bibirnya. Sementara pikiranku masih terganggung ketika perkataan Nico terus terngiang di kepalaku.
‘Taufik, I love you’
Persetan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar